Kakiku terasa ingin tumbang, dan peluhku mengucur deras diseluruh tubuh setelah beraktivitas seharian dan kini diakhiri dengan drama berlari mengejar commuter line yang akan membawaku meninggalkan Bogor, sang kota hujan ini. Untunglah masih ada tempat duduk yang tersisa. Ya, Allah memang baik sekali.
Dengan nafas yang masih tersenggal, ku buka note yg berisi 'to do list' ku hari ini. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 wib, dan menurut jadwal, aku masih harus memenuhi janji bertemu dengan beberapa kawan di UI 30 menit lagi. "Semoga lekas sampai" gumamku.
Tersadar akan tugas yang masih menumpuk, hafalan yang tertunda, dan amanah yg belum dirampungkan hari itu, aku pun menarik nafas dalam dalam.
Tak jarang aku berjika-jika tentang waktu. Berharap dalam satu hari tidak hanya 24 jam, namun lebih dari itu. Dan mungkin saja, diantara kalian ada juga yang sependapat denganku tentang hal ini. Ah, manusia memang tidak pernah ada puasnya..
Seringkali kita berpikir bahwa kita memiliki banyak waktu, hingga dengan mudahnya kita menunda, berjanji dan merencanakan banyak hal dengan yakin. Namun kenyataannya, waktu bukanlah milik kita. Ia adalah sumber daya yang sangat terbatas. Terus berkurang tanpa pernah bisa kita tawar.
Waktu yang kita miliki tentu saja berbeda beda. Usia setiap kita sudah digariskan dan tak pernah kita tahu kapan batas akhirnya. Maka, berhentilah berpikir bahwa kita masih punya banyak waktu karena sejatinya ia terus mengejar kita. Menjadi pacuan agar kita terus bergerak untuk tabungan akhirat.
Bahkan, Dia bersumpah atas nama waktu.
Ya, "Demi masa..."
Oleh : Nurul Inayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar