Pukul 07.55 a.m, jam tanganku menunjuk. Tak terasa, 5 menit lagi akan dilangsungkan prosesi pernikahan antara aku dan seorang pria yang sudah ku kenal selama 4 tahun terakhir. Rasa was-was bercampur haru dan bahagia memuncah di dalam sanubariku. Lisan ini tak sadar bergetar selalu melafadzkan do'a dan ayat-ayat suci berharap semoga Allah memberikan ketenangan hati dan kelancaran pada pernikahanku hari ini.
Tetapi, di tengah kebahagianku hari ini seketika terbesit wajah ayahku tercinta.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa ayah sudah meninggalkan ku dan ibuku selama 11 tahun. Senyumnya, candanya, pelukannya yang hangat, dan kasih sayangnya, semua masih terekam jelas di memoryku.
Andai saja ayah masih disini, tentu beliau lah yang akan menjabat tangan calon suamiku itu. Andai saja ayah masih disini, tentu beliau lah yang dengan suaranya yang lembut memberiku nasihat pernikahan. Mengenangnya, tak sadar air mata ini menetes. Ingin rasanya bicara pada ayah,
"Ayah, hari ini aku akan menikah dengan seorang pria yang insyaa Allah sama baiknya denganmu. Ayah apakah dirimu juga bahagia seperti aku dan ibu ? Ayah, aku rindu padamu sangat rindu. . Ayah, Semoga Allah selalu memberikan rahmat bagimu disana.
Tak sadar ku tenggelam dalam lamunan, Ibuku sudah berada di kamarku dan mengabarkan bahwa pernikahanku sudah sah dan calon suamiku mengucapkan ijab qabulnya dengan sangat lancar 1 nafas.
Alhamdulillaah. . rasa was-was, haru dan bahagia ku pecah, seketika aku menangis sujud syukur dan segera memeluk erat ibundaku. Ku lihat ibupun menangis haru pula.
Lalu, dengan langkah lembut ibu menggandeng tanganku untuk bertemu dengan pria yang sudah resmi menjadi suamiku. Perlahan aku menuruni anak tangga rumahku, seraya merunduk tersipu. Tiba-tiba dihadapanku ada seseorang yang menjulurkan tangannya. Ya dialah pria itu, suamiku. Untuk kali pertama ku menyentuh tangannya yang lembut dan dia tersenyum padaku. Ku sembunyikan wajahku agar tak nampak raut merah malu-malu. Diam-diam ku mencuri pandang kepadanya. Alangkah mengejutkan. . Ku temukan senyum ayah di dalam senyumannya. Hatiku seketika menjadi sangat tenang dan aku merasa yakin bahwa ayah pun bahagia sama seperti kami. . . Dan untuk pertama kali ku bergumam di dalam hati, "Aku sangat mencintaimu suamiku."
Oleh : Tiarha Hurul 'Ain