Minggu, 06 Desember 2015

Senyuman di Wajah Ayah

Pukul 07.55 a.m, jam tanganku menunjuk. Tak terasa, 5 menit lagi akan dilangsungkan prosesi pernikahan antara aku dan seorang pria yang sudah ku kenal selama 4 tahun terakhir. Rasa was-was bercampur haru dan bahagia memuncah di dalam sanubariku. Lisan ini tak sadar bergetar selalu melafadzkan do'a dan ayat-ayat suci berharap semoga Allah memberikan ketenangan hati dan kelancaran pada pernikahanku hari ini.
Tetapi, di tengah kebahagianku hari ini seketika terbesit wajah ayahku tercinta.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa ayah sudah meninggalkan ku dan ibuku selama 11 tahun. Senyumnya, candanya, pelukannya yang hangat, dan kasih sayangnya, semua masih terekam jelas di memoryku.
Andai saja ayah masih disini, tentu beliau lah yang akan menjabat tangan calon suamiku itu. Andai saja ayah masih disini, tentu beliau lah yang dengan suaranya yang lembut memberiku nasihat pernikahan. Mengenangnya, tak sadar air mata ini menetes. Ingin rasanya bicara pada ayah,
"Ayah, hari ini aku akan menikah dengan seorang pria yang insyaa Allah sama baiknya denganmu. Ayah apakah dirimu juga bahagia seperti aku dan ibu ? Ayah, aku rindu padamu sangat rindu. . Ayah, Semoga Allah selalu memberikan rahmat bagimu disana.

Tak sadar ku tenggelam dalam lamunan, Ibuku sudah berada di kamarku dan mengabarkan bahwa pernikahanku sudah sah dan calon suamiku mengucapkan ijab qabulnya dengan sangat lancar 1 nafas.
Alhamdulillaah. . rasa was-was, haru dan bahagia ku pecah, seketika aku menangis sujud syukur dan segera memeluk erat ibundaku. Ku lihat ibupun menangis haru pula.

Lalu, dengan langkah lembut ibu menggandeng tanganku untuk bertemu dengan pria yang sudah resmi menjadi suamiku. Perlahan aku menuruni anak tangga rumahku, seraya merunduk tersipu. Tiba-tiba dihadapanku ada seseorang yang menjulurkan tangannya. Ya dialah pria itu, suamiku. Untuk kali pertama ku menyentuh tangannya yang lembut dan dia tersenyum padaku. Ku sembunyikan wajahku agar tak nampak raut merah malu-malu. Diam-diam ku mencuri pandang kepadanya. Alangkah mengejutkan. . Ku temukan senyum ayah di dalam senyumannya. Hatiku seketika menjadi sangat tenang dan aku merasa yakin bahwa ayah pun bahagia sama seperti kami. . . Dan untuk pertama kali ku bergumam di dalam hati, "Aku sangat mencintaimu suamiku."

Oleh : Tiarha Hurul 'Ain

Lo pernah mikir gimana proses panjang membesarkan lo? Yup, lo tadinya nggak punya kekuatan hero jenis apapun. Jangankan terbang jalan saja lo nggak bisa. Sampai, dengan sabar luar biasa ibu dan bapak lo mengajarkan lo cara berdiri, bangkit dan berjalan.

Awalnya lo merengek tiap terjatuh, tapi mereka seperti sekomplotan juru sorak di lapangan hijau meneriaki lo "kamu bisa, kamu pasti bisa" yup langkah pertama lo. Mereka tersenyum paling bahagia. Bukan cuma lo yang senang diatas segalanya mereka yang paling bahagia.

Lalu, perlahan waktu terus mengerus kebersamaan. Menciptakan jarak. Lo membuat benteng pembatas. Teritori wilayah. Lo mulai nggak sopan teriak-teriak dari minta handphone sampai minta motor. Lo mulai memunggungi mereka. Seolah lo bisa jalan sendirian tanpa bantuan siapapun.

Setelah itu, ketika waktu akhrirnya menghabisi kebersamaan kalian. Orangtua lo wafat misalnya, lo akan seperti kucing kampung yang pulang dengan bercak darah perkelahian. Pulang tanpa daya upaya, mengeong lemas di depan gerbang. Tangis lo, air mata lo dan semua omongkosong lo tentang kasih sayang akan musnah nggak bersisa. Orang yang selalu menanti lo hingga detik jam terasa samar karena di sergap kantuk, orang yang selalu melebarkan tangannya dan siap mendekap lo, orang yang bahkan kalau disuruh mati demi lo dia rela. Sungguh, itu dekat sekali dengan lo emak-bapak lo.

Tapi, lo menyianyiakannya bukan? Ada 3 hal yang tak pernah kembali waktu, kesempatan dan orang yang menyayangi lo. Gue nggak akan ceramah panjang lebar tentang berbaktilah pada orangtua, tapi gue cuma mau bilang waktu nggak pernah mau menanti lo tobat dan berbalik.

Terus saja pungungi mereka hingga kelak lo sadar yang lo pungungi sudah tak lagi bernyawa. Terus saja sibuk dalam rutinitas omongkosong hingga kelak lo pahami bahwa yang sesungguhnya jadi prioritas sudah tak lagi ada. Terus saja bicara omongkosong tentang cinta kesiapa lah hingga akhirnya lo tahu pasti yang paling mencintai lo tak lagi berdiri tegap. Ia sudah pergi bersama gundukan tanah dan jutaan hari yang lo sia-siakan.

Oleh : Dian Nurmala Ws

Luruh

Bicara tentang waktu
Maka daun akan bercengkerama pada matahari
Yang menjadikannya pucuk di tajuk itu terus bertahan
Menghijau, perlahan menguning lalu kering

Bicara tentang waktu
Hari terhitung mundur
Menyapu pasir yang ikhlas melupakan jejakmu
Meniup angin yang pasrah menghilangkan gelombang suaramu

Bicara tentang waktu
Apakah kita akan melupakan awan?
Yang mencoba mencari hangatmu di waktu lalu
Namun, tetaplah waktu yang akan menang
Memutihkan semesta dan luruhkan awan hingga menjadi rinai

Bicara tentang waktu
Akar masih menjadi saksi
Memandangi apa yang terjadi tanpa harus muncul ke permukaan
Memandangi daun yang rela jatuh mengalah bersama musim
Memeluk pasir yang dihembus angin, juga
Menyambut rinai yang menghidupkan kembali pucuk

Waktu yang kian berubah tak kan mampu membuat akar berpindah
Ia tetap bersabar di dalam tanah tanpa ingin kau melihatnya
Selamanya ia akan memeluk apa yang jatuh
Bahkan, ketika yang terjatuh adalah senyummu

Oleh : Anisa Hamasah

Menikmati Waktu

Melihat mereka mengingatkanku pada memori masa silam.
Memori dimana baju putih abu-abu itu masih menempel ditubuhku.
Memori dimana waktu terasa begitu indah.

Berada ditengah tengah mereka, membawaku di waktu saat aku ada di posisi mereka. Dengan kepolosan dan sedikit kenakalannya, aku hanya bergumam dalam hati kecilku "seperti melihat film sendri".

Tiap waktu ku menemui mereka, tiap itu jg aku mengenang masa itu. Masa masa dimana masih ramai ku rasa persahabatan itu. Masa-masa dimana ku lewati waktu bersama-sama dengan sahabat2ku. Sahabat2 yg selalu mendukung dan mengajak ku utk terus memperbaiki diri, melakukan kebaikan bersama-sama. Sama seperti halnya mereka yg saat ini sedang menjalin kisah itu.

Ah, aku hanya bisa menikmati waktu.
Menikmati waktu yg tak lagi sama seperti dulu.
Semoga waktu yg ku nikmati saat ini, juga bisa dinikmati oleh dirimu, sahabatku..

Oleh : Nur Amalia Hasti

Dalam Detakku

/1/
Aku ingin menjadi jam,
di dinding kamarmu
yang menghitung senyummu,
dalam detakku.

Aku ingin menjadi detik,
di dalam hidupmu
yang kau pungut satu demi satu,
lalu kita jadikan sebuah karangan bunga.
-entah untuk mengantar kematianmu atau kematianku-

/2/
Entah karangan bungamu harus aku taruh di mana.
Liyangku telah sesak oleh doa dan tangismu.

Bunga kamboja telah berguguran,
seperti kenyataan yang menghilang pelan-pelan.
-sayang, aku tak bisa lagi menjagamu-

/3/
Sayang,
aku ingin mengutip sebuah syair untukmu;
"Yang fana adalah waktu, kita abadi."

Waktu tak abadi, ia berubah jadi perjalanan sebuah rindu. Terkadang ia lupa jalan pulang, karenanya kita menyebutnya sebagai kenangan.

Oleh : DTA

Senyummu

Terajut sempurna, memunculkan kebahagian bagi siapa saja yang melihatnya, terlebih bagi kedua orang tua mu. Betapa tidak indah dipandang mata? seolah olah lesum pipit, rapat bibirmu dengan sedikit tersungging bersatu padu menyusun senyum indah mu itu..

Tak hanya itu, senyum mu tampilkan kepada kami ketulusan, kejujuran, keikhlasan, dan kebahagiaan.

Rasa-rasanya,, segala lelah bekerja siang malam, bangun tidur sampai tidur kembali mengurusimu tak terasakan lagi lelahnya, capeknya, penatnya.

Ingin ku, ingin kami. Senyum mu tak hanya hiasi hidup kami di dunia, akan tetapi sampai abadi di SurgaNya.

Pinta ku, pinta kami kepada Allah untuk mu, semoga selalu menjadi penyejuk mata dan hati kami.

Terima kasih anak ku, kami ucapkan..

Hadir mu, senyum mu sempurnakan hidup kami..

Oleh : Ahmad Zulfikar

Demi Masa

Kakiku terasa ingin tumbang, dan peluhku mengucur deras diseluruh tubuh setelah beraktivitas seharian dan kini diakhiri dengan drama berlari mengejar commuter line yang akan membawaku meninggalkan Bogor, sang kota hujan ini. Untunglah masih ada tempat duduk yang tersisa. Ya, Allah memang baik sekali.

Dengan nafas yang masih tersenggal, ku buka note yg berisi 'to do list' ku hari ini. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00 wib, dan menurut jadwal, aku masih harus memenuhi janji bertemu dengan beberapa kawan di UI 30 menit lagi. "Semoga lekas sampai" gumamku.

Tersadar akan tugas yang masih menumpuk, hafalan yang tertunda, dan amanah yg belum dirampungkan hari itu, aku pun menarik nafas dalam dalam.

Tak jarang aku berjika-jika tentang waktu. Berharap dalam satu hari tidak hanya 24 jam, namun lebih dari itu. Dan mungkin saja, diantara kalian ada juga yang sependapat denganku tentang hal ini. Ah, manusia memang tidak pernah ada puasnya..

Seringkali kita berpikir bahwa kita memiliki banyak waktu, hingga dengan mudahnya kita menunda, berjanji dan merencanakan banyak hal dengan yakin. Namun kenyataannya, waktu bukanlah milik kita. Ia adalah sumber daya yang sangat terbatas. Terus berkurang tanpa pernah bisa kita tawar.
Waktu yang kita miliki tentu saja berbeda beda. Usia setiap kita sudah digariskan dan tak pernah kita tahu kapan batas akhirnya. Maka, berhentilah berpikir bahwa kita masih punya banyak waktu karena sejatinya ia terus mengejar kita. Menjadi pacuan agar kita terus bergerak untuk tabungan akhirat.

Bahkan, Dia bersumpah atas nama waktu.
Ya, "Demi masa..."

Oleh : Nurul Inayah